Jakarta – Kecerdasan buatan (AI) kini jadi alat baru penjahat siber di Indonesia. Wakil Menteri Komdigi Nezar Patria mengungkap deepfake melonjak 1.400 persen secara tahunan, sementara phishing berbasis AI punya tingkat keberhasilan 54-60 persen menipu korban. Berikut lima modus yang wajib Senarais kenali agar tidak jadi korban berikutnya.
1. Suara dan Video Palsu Meniru Atasan atau Pejabat
Modus deepfake audio-video kini dipakai untuk meniru suara maupun wajah CEO, atasan, atau pejabat pemerintah demi meminta transfer dana mendadak. Ketua Lembaga Riset Keamanan Siber CISSReC, Pratama Persadha, menyebut rekayasa sosial berbasis AI ini.
“hampir tidak dapat dibedakan dari komunikasi yang sah” dikutip dari detikInet, Selasa (6/1/2026). Korban biasanya diminta bertindak cepat tanpa sempat verifikasi ulang lewat jalur komunikasi lain.
2. Phishing Personal Hasil Generative AI
Berbeda dari phishing lama yang mudah dikenali lewat tautan mencurigakan, phishing berbasis generative AI kini disusun sangat personal berdasarkan data yang di-scraping dari media sosial korban. CEO Cyberkarta, Ismail Hakim, dalam Workshop Cybersecurity Komdigi di Yogyakarta, Sabtu (31/1/2026), menyebut tingkat keberhasilan phishing berbasis AI mencapai 54 hingga 60 persen.
3. Rekayasa Sosial Otomatis Skala Besar
AI kini bisa mengotomatiskan pengintaian target, membangun profil korban, hingga menyusun pesan penipuan dalam skala besar tanpa campur tangan manusia di setiap tahap. Pratama Persadha menjelaskan AI membantu pelaku “mengotomatiskan pengintaian, mengembangkan rantai eksploitasi, dan membuat phishing yang meyakinkan dalam skala besar.”
4. Serangan ke Model AI Itu Sendiri
Bagi Senarais yang mengelola bisnis atau institusi dengan sistem AI, ancaman tidak cuma dari luar. Deputi II Bidang Operasi Keamanan Siber BSSN, Mayjen TNI Bondan Widiatwan, dalam Data & AI Conference 2026 di Jakarta menyebut ancaman lain berupa data poisoning, pencurian model AI, hingga serangan terhadap rantai pasok AI nasional yang perlu diwaspadai pelaku usaha digital.
5. Dokumen dan Invoice Palsu Buatan AI
Modus lain yang mulai marak yakni invoice palsu, purchase order fiktif, dan kontrak kerja yang tampak meyakinkan karena disusun rapi memakai AI. Pelaku biasanya menciptakan urgensi agar korban langsung membayar atau membagikan data tanpa sempat mengecek keaslian dokumen.
- Deepfake naik 1.400% secara tahunan (Wamen Komdigi, Januari 2026)
- Phishing berbasis AI berhasil menipu 54-60% target (CEO Cyberkarta)
- IASC catat 432.637 laporan penipuan & kerugian Rp9,1 triliun hingga Januari 2026
- BSSN ingatkan ancaman baru: data poisoning & pencurian model AI
- Modus utama: deepfake suara/video, phishing personal, dokumen palsu
Data Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) mencatat 432.637 laporan penipuan online dengan total kerugian Rp9,1 triliun hingga Januari 2026, sementara Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat 3,64 miliar anomali serangan siber sepanjang Januari-Juli 2025. Angka ini diproyeksikan terus naik seiring makin masifnya pemanfaatan AI oleh pelaku kejahatan.
Senarais disarankan selalu memverifikasi ulang permintaan transfer dana atau data sensitif lewat jalur komunikasi terpisah, tidak mudah tergesa saat menerima pesan yang menekankan urgensi, dan segera melapor ke BSSN atau portal aduan resmi bila menemukan indikasi penipuan berbasis AI.
– Pernyataan Wamen Komdigi Nezar Patria & CEO Cyberkarta Ismail Hakim, Workshop Cybersecurity Komdigi Yogyakarta, 31 Januari 2026 (bpsdm.komdigi.go.id)
– Pernyataan Deputi II BSSN Mayjen TNI Bondan Widiatwan, Data & AI Conference 2026, Jakarta
– Pernyataan Ketua CISSReC Dr. Pratama Persadha, dikutip detikInet, 6 Januari 2026
– Data Indonesia Anti-Scam Centre (IASC), Januari 2026