Poin Penting
- Peneliti berhasil memangkas interferensi sinyal hingga 1 persen menggunakan chip lidar MIT untuk navigasi kendaraan otonom yang lebih akurat.
- Inovasi chip lidar MIT berbasis silikon-fotonik ini menghilangkan komponen bergerak sehingga menekan biaya produksi secara signifikan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Jakarta – Para peneliti di Massachusetts Institute of Technology (MIT) berhasil mengembangkan teknologi chip lidar MIT terbaru yang dirancang khusus untuk memperluas sudut pandang kendaraan otonom. Sensor solid-state ini dibuat lebih ringkas dan efisien tanpa menggunakan komponen mekanis yang bergerak cepat. Penemuan ini diharapkan dapat menekan biaya produksi sistem navigasi pintar global.
Menurut penelitian Massachusetts Institute of Technology yang dipublikasikan di jurnal Nature Communications baru-baru ini dan dikutip dari ScienceDaily, inovasi ini memanfaatkan teknologi silikon-fotonik untuk mengontrol cahaya secara presisi. Melalui pendekatan baru tersebut, para ilmuwan berhasil menciptakan sistem navigasi pintar yang jauh lebih ringkas, tahan lama, dan efisien dibandingkan sistem konvensional.
Teknologi ini bekerja dengan memancarkan pulsa cahaya inframerah untuk memetakan lingkungan sekitar secara tiga dimensi dengan akurasi tinggi. Terobosan ini menjadi langkah penting dalam mengatasi keterbatasan sensor navigasi otonom saat ini. Simak rincian datanya di bawah ini.
Sistem lidar konvensional umumnya menggunakan perangkat mekanis berputar yang berukuran besar dan mahal untuk mengarahkan sinar laser ke berbagai arah di jalan raya. Sebaliknya, chip lidar MIT menggunakan sirkuit optik terintegrasi yang disebut Optical Phased Array (OPA) untuk mengarahkan cahaya secara elektronik tanpa getaran fisik.
Cara Kerja Chip Lidar MIT Tanpa Komponen Bergerak
Teknologi OPA ini mengandalkan susunan antena mikro yang memancarkan cahaya ke luar chip secara bersamaan untuk mendeteksi rintangan di sekitar kendaraan. Dengan mengubah fase cahaya pada setiap antena, arah pancaran laser dapat dikendalikan dengan presisi tinggi tanpa ada bagian fisik yang bergerak sama sekali.
Namun, menempatkan antena dalam jarak sangat dekat biasanya menimbulkan gangguan sinyal atau crosstalk yang merusak akurasi data navigasi secara keseluruhan. Tim peneliti yang dipimpin oleh Profesor Jelena Notaros berhasil memecahkan masalah klasik ini dengan merancang arsitektur antena baru yang revolusioner.
Mengatasi Masalah Interferensi Antena
Dikutip dari ScienceDaily, riset ini menunjukkan beberapa data penting mengenai performa arsitektur antena yang baru dikembangkan tersebut:
- Pengurangan Interferensi hingga 1 Persen: Desain antena baru ini berhasil menekan tingkat kopling atau gangguan antar-antena dari yang semula hampir 100 persen menjadi hanya sekitar 1 persen saja. Hasil pengujian menunjukkan bahwa pengurangan drastis ini menghasilkan pancaran laser tunggal yang sangat bersih dan akurat.
- Penggunaan Tiga Geometri Antena Berbeda: Para peneliti merancang tiga bentuk antena berbeda dengan variasi lebar serta pola celah mikro yang unik untuk mengelabui sinyal tetangga. Perbedaan struktur ini membuat setiap antena tidak saling mengganggu meskipun diletakkan dalam jarak yang sangat rapat.
- Sudut Pandang yang Jauh Lebih Luas: Dengan menempatkan antena lebih rapat tanpa adanya crosstalk, sensor ini mampu memindai area sudut luar secara maksimal tanpa menghasilkan bayangan sinyal palsu. Kemampuan ini sangat krusial untuk mendeteksi objek di area blind spot kendaraan otonom.
Inovasi ini juga membuka peluang besar untuk menjalankan kecerdasan buatan pada perangkat keras mikro yang tertanam langsung pada bodi kendaraan masa depan. Hal ini akan mengurangi ketergantungan pada komputer server eksternal yang lambat serta meningkatkan kecepatan respons kemudi otomatis.
Relevansi untuk Infrastruktur Transportasi di Indonesia
Teknologi sensor yang murah dan andal sangat dibutuhkan untuk mendukung pengembangan kota cerdas (smart city) di berbagai wilayah metropolitan tanah air. Kehadiran chip lidar MIT dengan biaya produksi rendah dapat mempercepat adopsi sistem keselamatan aktif pada transportasi publik di Indonesia, seperti bus TransJakarta otonom.
Secara keseluruhan, chip lidar MIT berbasis silikon-fotonik ini berhasil memecahkan hambatan fisik dalam teknologi pemindaian jarak jauh tanpa komponen mekanis. Bagi Indonesia, adopsi sensor berbiaya rendah ini sangat relevan untuk mempercepat modernisasi transportasi cerdas dan meningkatkan keselamatan jalan raya di kota-kota besar. Implementasi teknologi navigasi yang lebih terjangkau akan membantu menekan angka kecelakaan lalu lintas secara signifikan.
Sumber: ScienceDaily (“MIT’s new lidar chip could give self-driving cars a wider view”)