Posting Zero Jadi Fenomena Anak Muda Berhenti Unggah Medsos yang Diramal Kyle Chayka Setahun Lalu, Kini Terbukti

Fenomena "Posting Zero" yang Diprediksi Kyle Chayka
Gambar Ilustrasi Media Sosial/Source Pixabay
Ringkasan Cepat Artikel:

  • Istilah “Posting Zero” diciptakan jurnalis The New Yorker, Kyle Chayka, pada November 2025 untuk menggambarkan pengguna biasa yang berhenti membagikan momen keseharian di medsos.
  • Survei Financial Times/GWI 2026 terhadap 250.000 pengguna di 50 negara mencatat aktivitas unggahan medsos global turun 10 persen, dengan penurunan tertajam pada remaja dan pengguna berusia 20-an.
  • Tren serupa sudah terekam di Indonesia sejak awal 2026, dipicu kelelahan mental dan pergeseran makna validasi sosial di kalangan anak muda.

Jakarta – Semakin banyak pengguna media sosial biasa memilih berhenti membagikan momen keseharian mereka di linimasa. Fenomena ini disebut jurnalis The New Yorker, Kyle Chayka, sebagai “Posting Zero” dalam kolom mingguannya, Infinite Scroll.

Istilah tersebut pertama kali diperkenalkan pada November 2025, jauh sebelum data survei global mengonfirmasi prediksinya. Chayka menggambarkannya sebagai titik ketika pengguna biasa, bukan kreator profesional atau brand, berhenti membagikan hal-hal remeh dari hidup mereka.

Dalam kolomnya, Chayka menulis bahwa masyarakat mungkin sedang menuju titik ketika “orang-orang normal” lelah dengan kebisingan, gesekan, dan rasa terekspos di medsos. Ia menyebut kondisi itu akan mengakhiri fungsi medsos sebagai catatan langsung kehidupan siapa saja yang mengalami sesuatu.

Prediksi itu kini diperkuat data konkret. Survei Financial Times bersama GWI terhadap 250.000 pengguna di 50 negara pada 2026 mencatat aktivitas unggahan medsos global turun 10 persen untuk pertama kalinya.

Penurunan paling tajam justru terjadi pada kalangan remaja dan pengguna berusia 20-an, kelompok yang selama ini paling aktif di medsos. Data ini menjadi bukti kuat bahwa tren yang sebelumnya hanya prediksi kini benar-benar terjadi secara global.

Waktu screen time harian orang dewasa berusia 16 tahun ke atas di medsos ikut menyusut signifikan. Menurut data FT/GWI, angka ini turun dari puncaknya 2 jam 40 menit pada 2022 menjadi 2 jam 20 menit saat ini.

Di Amerika Serikat, hampir satu dari tiga pengguna mengaku memposting lebih sedikit dibanding tahun lalu. Di Eropa dan Asia, penurunan pada kelompok remaja hingga 20-an bahkan mencapai 15 hingga 20 persen.

Tren ini bahkan sudah menarik perhatian media besar di luar kolom asli Chayka. Ia sempat diundang wawancara khusus oleh BBC untuk membahas lebih jauh teorinya soal Posting Zero.

Sejumlah pengguna turut membagikan pengalaman serupa di berbagai platform profesional. Mereka mengaku merasa jenuh melihat linimasa yang dulunya personal kini berubah menjadi ruang penuh promosi dan konten asing.

Akar Kelelahan di Balik Layar

Fenomena ini beririsan dengan konsep “enshittification” yang dipopulerkan penulis Cory Doctorow sejak 2022. Istilah tersebut menggambarkan bagaimana platform digital mula-mula memanjakan pengguna, lalu perlahan mengorbankan mereka demi kepentingan bisnis dan iklan.

Doctorow menyebut fenomena itu berjalan melalui tiga tahap yang berulang di berbagai platform besar. Mula-mula pengguna dimanjakan, lalu dikorbankan demi kepentingan mitra bisnis, hingga akhirnya nilai sepenuhnya ditarik kembali oleh perusahaan.

Proses tersebut membuat ruang yang dulunya terasa akrab kini terasa asing bagi banyak pengguna lama. Wajar jika sebagian dari mereka memilih menonaktifkan kebiasaan berbagi dibanding terus bertahan di tengah linimasa yang berubah.

Sejumlah pengamat mengaitkan proses itu sebagai salah satu pemicu utama kelelahan pengguna terhadap medsos. Linimasa yang dulunya berisi kabar keseharian teman kini dipenuhi iklan bertubi-tubi, konten daur ulang, dan materi hasil kecerdasan buatan.

Konsep lain yang ikut mengemuka dalam diskusi ini adalah dead internet theory. Teori tersebut menyebut sebagian besar konten di medsos dan forum kini dihasilkan oleh bot dan kecerdasan buatan, bukan manusia sungguhan.

Teori ini memperkuat kesan bahwa ruang digital semakin kehilangan sentuhan manusia yang autentik. Kombinasi enshittification dan dead internet theory membuat sebagian pengguna merasa unggahan pribadi mereka tenggelam di tengah lautan konten otomatis.

Riset lapangan media The Nod Mag pada Maret 2026 terhadap remaja di India menemukan pola yang serupa. Sebagian generasi muda di sana menganggap unggahan personal berisiko secara sosial karena standar estetika yang makin tinggi.

Mereka juga khawatir menerima komentar negatif dari orang asing setiap kali membagikan momen pribadi. Kekhawatiran semacam ini membuat banyak anak muda memilih diam daripada terus tampil di ruang publik digital.

Kombinasi berbagai faktor ini membuat generasi muda di banyak negara mulai mempertanyakan ulang manfaat tampil di medsos secara terus-menerus. Perubahan pola pikir ini terjadi hampir bersamaan di berbagai belahan dunia meski dengan pemicu yang sedikit berbeda.

Sejumlah lembaga riset pasar turut memperingatkan bahwa tren ini bisa mengubah cara platform besar mengukur keberhasilan produk mereka. Metrik engagement tradisional dinilai perlu ditinjau ulang karena tidak lagi mencerminkan perilaku pengguna yang sesungguhnya.

Gejala serupa ternyata sudah terekam di Indonesia sejak awal 2026. Liputan IDN Times Jabar pada Januari 2026 mendokumentasikan tren yang sejalan dengan prediksi Chayka setahun sebelumnya.

Alasan utama anak muda Indonesia mengurangi unggahan adalah kelelahan mental akibat arus informasi yang tidak pernah berhenti. Makna validasi sosial lewat likes dan views juga dianggap sudah tidak sepenting dulu bagi banyak dari mereka.

Banyak dari mereka kini lebih memilih koneksi personal yang lebih tertutup dibanding tampil di ruang publik digital. Pergeseran preferensi ini menunjukkan bahwa Posting Zero bukan sekadar tren luar negeri, melainkan realita yang mulai dirasakan di linimasa lokal.

Bagi pelaku industri digital dan pemasar di Indonesia, tren ini bisa menjadi sinyal penting untuk meninjau ulang strategi konten di medsos. Ketergantungan pada engagement organik dari unggahan pengguna biasa mungkin perlu digeser ke pendekatan yang lebih personal dan bermakna.

Konten yang terasa personal dan relevan dengan kebutuhan nyata pengguna dinilai lebih mungkin bertahan di tengah tren ini. Sebaliknya, unggahan yang murni mengejar jumlah interaksi berisiko semakin diabaikan oleh audiens yang makin selektif.

Fenomena ini menjadi pengingat bahwa hubungan manusia dengan medsos terus berubah seiring waktu. Bagi Senarais yang mulai lelah dengan linimasa penuh iklan, mengurangi unggahan bukan berarti ketinggalan zaman, melainkan pilihan yang kini diambil banyak orang.

Sumber Box:
Kolom “Infinite Scroll” oleh Kyle Chayka, The New Yorker (November 2025), sebagaimana dirangkum ThePrint dalam artikel “What is ‘Posting Zero’? The internet generation is growing tired of social media” (24 November 2025). Data tambahan mengacu pada survei Financial Times/GWI 2026, konsep enshittification oleh Cory Doctorow, riset The Nod Mag (Maret 2026), dan liputan IDN Times Jabar (Januari 2026).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *